Subhanallah, walkhamdulillahi walaillaha illallahu allahu akbar, lakhaula walakhuwata illabillah......
Innalillahu wa innailaih rojiun.... setiap yang bernyawa pasti akan mati dan hanya kepada Tuhannya akan kembali, tanggal 26 Mei 2010, ayah mertua yang juga kakek dari anak2 saya Bp. Didik Sukardi berpulang ke haribaan Illahi Rabbi. Waktu itu jam 13.45 aku terima telp dari rumah mengabarkan Bapak telah berpulang. Sejenak blank,..... dan kembali fokus apa yang harus aku lakukan. Telephone agen tiket langganan tanya tiket pulang ke Kediri, masih ada 50 seat, kucoba contact ponakan tapi gak bisa, sambil menunggu aku berbenah dan pamit ke direksi. Sambil pulang urusan finance selama jalan dan di Kediri kupersiapkan, dan saat itu aku baru mengabarkan ke istri yang juga Anak Kandung dari ALm. Bapak Didik Sukardi, dan alhamdulillah tidak ada isak tangis, artinya keikhlasan itulah yang aku harapkan.
Nyampe di rumah langsung menyiapkan apa yang seharusnya di bawa cukup untuk 3 hari, sambil mencari alternatif kendaraan untuk pulang, karena ternyata tiket KA, Pesawat dan Buspun ludes, karena bersamaan dengan long week end, dn akhirnya ku dapat rental mobil tetangga, dan berangkat full team jam 9 malam, dalam kondisi hujan. Bismillahirrohmanirrohim.... kami berangkat menuju Semarang.
Perjalanan terasa sangat lama, nggak taulah, selain yang nopir sudah agak berumur kondisi hujan tidak memungkinkan untuk jalan dengan kecepatan tinggi. Yah aku berfikir karena kami pingin segera nyampe rumah jadi perjalanan terasa lama. Sementara itu Jenazah sudah dikebumikan sore itu juga, artinya kami tidak harus terburu-buru.
Jam 7 pagi hari berikutnya, artinya tgl 27-6-2010 nyampe di Semarang, dan bawaan yang kami bawa langsung kami pindahkan ke Mobil yang sudah menunggu mulai jam 3 dini hari, sungguh kasihan sopir (Indra) dari Jepara. Tapi OKlah yang penting kami sudah berganti mobil dan segera meluncur ke Kediri... Tetap saja jalan terasa lelet banget, sarapan.... yah kami harus mengisi perut, kasihan anak-anak capek dan moga aja tidak kelaparan.Maafin ayah ya sayang...makannya jadi lambat deh. dan akhirnya kami makan, alhamdulillah Idang mau makan, Isma cuman dikit, semoga masih mau minum susu. Jalan terasa amatlah lambat, nggak tau kenapa, ang pasti jalanan padat banget. Sementara dari rumah Magetan dapat informasi bahwa Ibu dan sodara-sodara lain akan ke Kediri , yang pasti kepingin ketemu cucu dan kami. Jalan bener2 terasa merayap..... Solo...Sragen....ngawi..caruban...nganjuk sudah lewat, dan alhamdulillah jam 14.30 WIB kami nyampe rumah Kediri, kami bersalam-salaman dan ...... alhamdulillah ya Allah kami sudah nyampe Kediri dengan selamat.
Setelah beberapa saat istirahat ngobrol sama Ibu dan sodara yang lain, kami ke makam Bapak (Alm P. DIdik Sukardi). Allahumaghfilahu warhamhu wa'afihi wa'fu anhu..... Ya Allah ampunillah Bapak Kami, Lapangkanlah kuburnya, ringankan siksa kuburnya, tempatkanlah beliau di sisimu ya Allah dan tempatkan beliau di SurgaMu ya Rabb...
Rasa capek...lelah...ngantuk, sepertinya sudah tidak terasa lagi ato yang pas tidak saya rasakan.... Hari itu dilanjutkan dengan Selamatan 3 hari.....
Malamnya pingin segera tidur, tapi mata rasanya sulit merem, dan Ya Allah Isma badannya anget, segera dipijit oleh ibunya dgn Minyak San Hong.... dan akhirnya pagi menyapa......
Siang tidak ada perubahan apapun dari Isma, ewel juga nggak, main seperti biasa, makan emang agak sedikit susah tapi masih mending ada yang masuk, tapi jajan gak mau berhenti...dan permen itu terus. Idang nggak ada masalah, main sapa Pak Puhnya. Dan sore menjelang, pengajian rutin sampai tujuh hari berlanjut, yang pasti capek tidak saya rasakan, ngantukpun rasanya enggan menghampiri aku. Malam itu Isma kembali anget badannya..... rewel..... dan semalaman hampir tidak bisa tidur. Kenapa sayang... jangan sakit yaaaa
Ini berlangusng selama tiga hari sampai kami mau balik ke Jakarta.
Dan sebelum itu kami berembug bersama keluarga tentang Bu Naroh istri muda Bapak , agar mau tinggal di rumah minimal sampai 40 hari, dengan pertimbangan teman-teman Bapak itu banyak sekali, yang mungkin baru mendengar kepergian Bapak. Dia mengiyakan saja saat rembugan tersebut, juga tentang peralatan pijat Bapak kami minta dibagi satu persatu karena paling tidak kami kan anak tukang pijit masak tidak punya tinggalan apapun, termasuk tawaran untuk ngambil baji Bapak, itu masih saya tunda karena rasanya tidak sopan, belum genap tujuh hari kok minta baju untuk kenangan. sampai sejauh itu tidak ada gejala aneh dari Istri Muda Bapak hingga kami berangkat menuju Jakarta.
Dalam perjalanan Isma badannya kembali anget, obat penurun panas rutin kami berikan tiap 6 jam, tapi panas kembali setelah beberapa jam diminum, dan sama sekali gak mau makan ato minum susu, cuma makan di Solotigo mau makan ikan sedikit. Semoga aja tidak apa-apa.
Dan alhamdulillah nyampe rumah di Bekasi dengan selamat, dan Isma kelihatan capek....dipijitin oleh Ibu-nya....
Selang beberapa hari kami harus ke dokter karena kami takut dehidrasi karena nggak mau makan dan minum, yaa itu hari Rabu.... Konsul ke Dokter Bukit disuruh langsung ke Poli untuk mendapat surat pengantar untuk langsung rawat inap. dan hari itu Isma langsung di rawat untuk beberapa hari. Bingung itu pasti....sementara kerjaan sudah beberapa hari saya tinggal pastinya sudah numpuk dan harus selesai tapi Usma tidak bisa ditinggalkan, dan akhirnya dengan eberpa pertimbangan kami minta Tolong ke Budhe Idang (Mbak Rul) untuk menenmani beberapa hari di RS. Dan BudheLuli datang bersama Budhe Kupang.... dan tinggal di Rumah sakit selama 2 hari.... capek..lelah ngantuk.... Suntikan antibiotik dan penambah nafsu makan diberikan..... karena hari pertama untuk nangis aja sepertinya Isma sudah capek..... Ya Allah lindungi anak kami, berikan kesembuhan Ya Allah......
5 hari Isma di rawat dan akhirnya pulang, legaaaaaaa bisa tidur di rumah, smentara Mbak rul dan Budhe tinggal dirumah selama satu minggu sampai kondisi Isma bener2 pulih.
Sembuh ya Sayang, jangan sakit lagi, maem yang banyak, minum yang banyak jangan lupa obatnya............
Belum lagi bisa selonjor Istri Muda Bapak bikin ulah, dia mau pergi dari rumah dengan alasan yang macam-macam, yang katanya diusir sama Mas No kek, yang duitnya di Minta sama Mas No kek......banyak cingconglah.... Mau pergi pergi aja gak usah banyak mulut. Itukan yang kau mau...!!!
dan satu truk memuat barang-barang dari rumah ... bawa aja kami gak membutuhkannya.
Senin, 07 Juni 2010
Selasa, 20 April 2010
Gurit : Biyung....
Asta kang gemeter kepangan mangsa
Rikma kang pethak kebak pralambang gesang
Netra kang wis wiwit kurang trawaca
Biyung...
sih katresnan tansah sumandhang
tan bisa luntur kepangan jaman
donga pangarep ing putra
tansah lumuntur ka adhep Mring Pangeran
tanpa pangarep ing pamrih
Biyung....
Rikma kang pethak kebak pralambang gesang
Netra kang wis wiwit kurang trawaca
Biyung...
sih katresnan tansah sumandhang
tan bisa luntur kepangan jaman
donga pangarep ing putra
tansah lumuntur ka adhep Mring Pangeran
tanpa pangarep ing pamrih
Biyung....
Senin, 19 April 2010
Membila Noda yang Melekat di Hati
mengutip dari postingan facebook P. Djojok S.
=============================================
“Bismillaahirrohmaanirrohiim. Ilaahi anta maksuudi waridoka matluubi ’atinii mahabbataka wama’arifataka.”
Mari kita berimajinasi bahwa kamarau panjang telah datang, daun-daun tertunduk layu, kemudian jatuh berguguran di halaman. Kita berusaha menyapu, menyapu, lalu menyapu dengan sapu lidi yang panjangnya tak seukuran. Halaman bersih, namun tak lama daun-daun kembali berserakan.
Sama seperti kondisi tersebut, pada hati manusia pun debu tak henti-hentinya datang beterbangan, lalu melekat menjadi kotoran, noda, yang akhirnya bertumpuk menjadi mengerat menjadi dosa. Setiap saat terus melekat silih berganti mesti sering dibersihkan. Oleh sebab itu, kita tidak boleh lalai, tidak boleh lengah memegang serbet keyakinan dan keimanan untuk membersihkannya. Membersihkan noda-noda yang menempel di hati manusia akan lebih sulit dibandingkan dengan menyapu daun kering yang berjatuhan di halaman.
“Ki o tsukazu, me ni mo mie nedo, itsu to naku, hokori no tamaru, tamoto narikeri”. (5-7-5-7-7). Puisi Jepang (haiku) ini saya temukan dalam sebuah buku bacaan bahasa Jepang. Maknanya sangat sesuat dengan tema tulusan di tas. Oleh karena itu saya coba untuk mengutipnya. Puisi tersebut mengisyaratkan bahwa manusia tanpa disadarinya, tanpa diketahuinya, setiap saat hatinya akan menjadi kotor oleh debu kehidupan dunia. “Apa sebenarnya yang mengotori hati manusia?”
Sudah tentu sama halnya dengan yang membuat kotor “cermin jernih” yang pertama kali diperoleh manusia Tuhannya, yang membuat kotor hati manusia adalah “keinginan”, “keakuan”, “keegoan”, “gairah yang berlebihan”, “lalai terhadap perintah-Ny”, dan masih banyak lagi. Kalau kotoran di halaman hanya disebabkan daun yang berguguran, tetapi kotoran di hati disebabkan oleh banyak hal terutama perbuatan yang menyimpang dari perintah-Nya.
Harus disadari, hati juga punya kebiasaan yang sulit diubah. Kalau kita bukan orang yang cerdik, jangan berharap mita mampu membersihkan debu yang bertumpuk di hati kita, karena hati pada hakekatnya sangat suka menyedot debu-debu agar melekat pada dirinya. Oleh sebab itulah, untuk mencegah debu tidak mudah melekat di hati, kita harus senantiasa mendekatkan diri pada cahaya Ilahi yang terpancar dari “cermin jernih“ yang pertama kali kita terima.
“Hibi ni tsumoru kokoro no chiri akuta, arai nagashite, waga o tasukeyou”. Puisi Jepang (haiku) ini karya Ninomiya Sontoku yang sangat terkenal. Interprestasi saya adalah, “kalau kita selalu membersihkan kotoran yang melekat di hati, maka kita akan tertolong dari kehidupan yang fana ini. “Nafsu” merupakan musuh besar dalam kehidupan manusia. “Waga” dalam ”waga tasukeyo” bermakna “sejatinya diri manusia”, artinya sama dengan “masu kagami” (cermin yang jernih). Manusia harus berkorban dalam hidupnya untuk membersihkan kotoran-kotoran yang bertimbun di hatinya.
Sejak kita lahir orang tua kita sudah beruhasa sekuat tenaga dan pikirannya memberi bimbingan, mendidik, dan berdo’a agar kita mampu mengibaskan debu-debu yang datang melekat pada hati kita. Akan tetapi, “keinginan”, “ego”, “kesombongan” diri kita yang dibawa oleh “reikon” atau saya sebut saja “syaitan” yang maha licik, telah meluluhlantakkan fondasi yang ditanamkan orang tua kita. Orang tua kita dalam do’anya kadang menangis menyesali pengharapannya yang gagal menjadikan kita anak yang saleh. “Audzubilahhimindzalik”, jangan sampai kita menjadi anak yang membuat orang tua kita menagis karena ulah dan prilaku kita.
Bahagianlah orang tua kita dengan menjadi anak yang saleh karena sesungguhnya Allah telah berfirman, “Dan, sesungguhnya telah kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwa bumi ini dipusakai hamba-hambak-Ku yang saleh.” (QS. Al-Anbiyaa’:105)
Semoga kita tergolong orang-orang yang soleh yang mampu membahagiakan ke-dua orang tua kita, keluarga kita, sesama manusia di muka bumi ini. “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu, dengan kemulyaan-mu dan kerendahan kami, dengan kekuatan-mu dan kelemahan kami, dengan kekayaan-Mu dan kemiskinan kami, agar Engkau mau berbelas kasih kepada kami, bersihkanlah hati kami dari keraguan terhadap segla kekuasaan-Mu. Amiin
=============================================
“Bismillaahirrohmaanirrohiim. Ilaahi anta maksuudi waridoka matluubi ’atinii mahabbataka wama’arifataka.”
Mari kita berimajinasi bahwa kamarau panjang telah datang, daun-daun tertunduk layu, kemudian jatuh berguguran di halaman. Kita berusaha menyapu, menyapu, lalu menyapu dengan sapu lidi yang panjangnya tak seukuran. Halaman bersih, namun tak lama daun-daun kembali berserakan.
Sama seperti kondisi tersebut, pada hati manusia pun debu tak henti-hentinya datang beterbangan, lalu melekat menjadi kotoran, noda, yang akhirnya bertumpuk menjadi mengerat menjadi dosa. Setiap saat terus melekat silih berganti mesti sering dibersihkan. Oleh sebab itu, kita tidak boleh lalai, tidak boleh lengah memegang serbet keyakinan dan keimanan untuk membersihkannya. Membersihkan noda-noda yang menempel di hati manusia akan lebih sulit dibandingkan dengan menyapu daun kering yang berjatuhan di halaman.
“Ki o tsukazu, me ni mo mie nedo, itsu to naku, hokori no tamaru, tamoto narikeri”. (5-7-5-7-7). Puisi Jepang (haiku) ini saya temukan dalam sebuah buku bacaan bahasa Jepang. Maknanya sangat sesuat dengan tema tulusan di tas. Oleh karena itu saya coba untuk mengutipnya. Puisi tersebut mengisyaratkan bahwa manusia tanpa disadarinya, tanpa diketahuinya, setiap saat hatinya akan menjadi kotor oleh debu kehidupan dunia. “Apa sebenarnya yang mengotori hati manusia?”
Sudah tentu sama halnya dengan yang membuat kotor “cermin jernih” yang pertama kali diperoleh manusia Tuhannya, yang membuat kotor hati manusia adalah “keinginan”, “keakuan”, “keegoan”, “gairah yang berlebihan”, “lalai terhadap perintah-Ny”, dan masih banyak lagi. Kalau kotoran di halaman hanya disebabkan daun yang berguguran, tetapi kotoran di hati disebabkan oleh banyak hal terutama perbuatan yang menyimpang dari perintah-Nya.
Harus disadari, hati juga punya kebiasaan yang sulit diubah. Kalau kita bukan orang yang cerdik, jangan berharap mita mampu membersihkan debu yang bertumpuk di hati kita, karena hati pada hakekatnya sangat suka menyedot debu-debu agar melekat pada dirinya. Oleh sebab itulah, untuk mencegah debu tidak mudah melekat di hati, kita harus senantiasa mendekatkan diri pada cahaya Ilahi yang terpancar dari “cermin jernih“ yang pertama kali kita terima.
“Hibi ni tsumoru kokoro no chiri akuta, arai nagashite, waga o tasukeyou”. Puisi Jepang (haiku) ini karya Ninomiya Sontoku yang sangat terkenal. Interprestasi saya adalah, “kalau kita selalu membersihkan kotoran yang melekat di hati, maka kita akan tertolong dari kehidupan yang fana ini. “Nafsu” merupakan musuh besar dalam kehidupan manusia. “Waga” dalam ”waga tasukeyo” bermakna “sejatinya diri manusia”, artinya sama dengan “masu kagami” (cermin yang jernih). Manusia harus berkorban dalam hidupnya untuk membersihkan kotoran-kotoran yang bertimbun di hatinya.
Sejak kita lahir orang tua kita sudah beruhasa sekuat tenaga dan pikirannya memberi bimbingan, mendidik, dan berdo’a agar kita mampu mengibaskan debu-debu yang datang melekat pada hati kita. Akan tetapi, “keinginan”, “ego”, “kesombongan” diri kita yang dibawa oleh “reikon” atau saya sebut saja “syaitan” yang maha licik, telah meluluhlantakkan fondasi yang ditanamkan orang tua kita. Orang tua kita dalam do’anya kadang menangis menyesali pengharapannya yang gagal menjadikan kita anak yang saleh. “Audzubilahhimindzalik”, jangan sampai kita menjadi anak yang membuat orang tua kita menagis karena ulah dan prilaku kita.
Bahagianlah orang tua kita dengan menjadi anak yang saleh karena sesungguhnya Allah telah berfirman, “Dan, sesungguhnya telah kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwa bumi ini dipusakai hamba-hambak-Ku yang saleh.” (QS. Al-Anbiyaa’:105)
Semoga kita tergolong orang-orang yang soleh yang mampu membahagiakan ke-dua orang tua kita, keluarga kita, sesama manusia di muka bumi ini. “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu, dengan kemulyaan-mu dan kerendahan kami, dengan kekuatan-mu dan kelemahan kami, dengan kekayaan-Mu dan kemiskinan kami, agar Engkau mau berbelas kasih kepada kami, bersihkanlah hati kami dari keraguan terhadap segla kekuasaan-Mu. Amiin
Senin, 12 April 2010
Kata “Ibu” dan “Ayah” akan Membuat Manusia Selalu Menangis
(dicopy dari tulisan Bp. Djojok Suparjo, Dozen Prodi Bahasa Jepang Unesa)
_==========================================================_
Entah sudah beberapa kali saya mengikuti upcara prosesi pengukuhan Guru Besar di Universitas tempat saya bekerja, entah berapa kali pula saya menyaksikan para Guru Besar tak berdaya menahan tetesan air mata mereka di penghujung orasinya.
Pada umumnya di akhir pidato pengukuhan Guru Besar ada bagian untuk menyampaikan ucapan terimaksih kepada semua orang yang telah berjasa mengantarkan mereka memperoleh jabatan tertinggi dalam bidang akademik tersebut. Sekuat apapun hati, secerdas apappun intelegensi mereka, pada saat sampai pada ucapan terimakasih yang ditujukan kepada kedua orangtuanya, sejenak selalu berhenti berusaha bembendung genangan air mata yang mulai menetes di kedua bela pipinya. Betapa dahsyatnya kata “Ibu” dan “Ayah” . Tidak berlebihan kalau kata-kata tersebut mengandung makna yang sangat magis hingga membuat seseorang terenyuh bila mendengarnya.
Saya pernah mengikuti sebuah pelatihan penyeimbangan otak kiri dan otak kanan. Pelatihan tersebut dikemas begitu cantik sehingga peserta benar-benar masuk ke dalam suasana sugesti sang pelatih. Di penghujung pelatihan kami diminta membayangkan ke dua orang tua kami karena sang pelatih akan membacakan “surat wasiat” yang dititipkannya kepadanya dari orang tua kami. Dari mulai sampai akhir dibacakan surat wasiat tersebut saya tak mampu menahan deraian air mata yang meluap disela kelopak mata saya. Surat wasiat tersebut isinya kira-kira seperti berikut. Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda ketika membaca surat berikut ini. Tetapi coba Anda bayangkan, bagaimana kalau surat ini datang dari orang tua Anda sendiri.
Dear Anakku Tersayang
Anakku, surat ini Ibu dan Ayah tulis atas nama rindu yang besarnya hanya ALLAH yang tahu. Anakku sayang, menjadi ayah atau ibu itu sungguh indah dan mulia. Terlepas dari kecemasan Ayah dan Ibu ketika menanti kelahiranmu dulu yang masih dapat Ibu dan Ayah rasakan hingga kini. Bila Ibu dan Ayah kenang lagi kecemasan itu, terasa sangat indah karena didasari atas rasa cinta dan kasih sayang yang belum pernah Ibu dan Ayah rasakan sebelumnya.
Anakku, menjadi Ibu atau ayah itu sungguh mulia. Pernahkah engkau baca sejarah para nabi rosul Allah?. Di situ betapa banyak nasihat yang terbaik dicatat dari dialog antara orang tua dengan anak-anaknya. Meskipun demikian, ketahuilah nak, menjadi ibu atau ayah tidaklah mudah.
Ibu dan Ayah masih dapat mengenang masa-masa yang terlewat, antara desah ratap Ibu ketika berusaha melahirkanmu, dan kerinduan Ayah menanti kehadiranmu. Masih terbayang tubuh Ayah gemetar menyaksikan perjuangan Ibumu dalam proses melahirkanmu. Ibu dan kadang sebentar tertunduk layu dan sebentar tersenyum menatatap harapan atas keselamatanmu.
Kini, sepanjang masa keberadaanmu di sisi kami adalah salah satu masa terindah dan paling kami banggakan di depan siapapun, bahkan dihadapan ALLAH ketika ayah dan ibumu duduk tafakur dihadapan-Nya, hingga saat usia senja ini.
Anakku dambaan hati Ibu dan Ayah, masih terbayang dipelupuk mata Ibu dan Ayah saat engkau lahir dipangkuan ini. Kami cium dan kami timbang. Lalu engkau kami peluk erat-erat karena engkau kami anggap sebagai buah cinta kasih sayang antara Ibu dan Ayah. Engkau kami anggap sebagai bukti perekat jiwa Ibu dan Ayah yang tak lagi terpisahkan oleh apapun jua.
Tapi seiring perkembangan waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata “TIDAK”!. Ibu dan Ayah terperangah, kata-kata itu betul-betul telah menggugah kesadaran ayah dan ibumu. Ayah mulai bertanya dalam hati, ”siapakah engkau sesungguhnya?”. Engkau ternyata bukan milik kami, Ibu dan Ayah nak. Engkau lahir, ternyata bukanlah semata karena cinta kasih Ibu dan Ayah. Engkau adalah milik ALLAH. Tak ada hak bagi kami menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata dan seharusnya hanya untuk ALLAH.
Anakku, hati Ibu dan Ayah terasa pedih, jiwa ini terasa terhempas ketika menyadari siapa sebenarnya kami dan siapa sebenarnya engkau. Dalam untaian waktu yang panjang, tat kala malam menjadi sunyi sepi, muncul penyesalan dalama hati atas kesalahan Ayah dan Ibu mu. Mengapa Ayah dan Ibu tidak mampu mendidik dan membahagiakan kamu Nak. Penyesalan itu keluar bersama deraian air mata di hadapan ALLAH.
Tapi walaupun begitu, Ibu dan Ayang senantiasa bersyukur, karena penyesalan itu membuat Ibu dan Ayah hidup lebih cerah dan lega. Dan kesadaran itu muncul Nak, satu-satunya upaya Ibu dan Ayah adalah berusaha mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu dengan melakukan segala sesuatu karena ALLAH, bukan karena Ibu dan Ayah.
Tugas Ibu dan Ayah bukanlah agar engkau dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai ALLAH. Inilah upaya terberat Ibu dan Nak, karena artinya Ibu dan Ayah harus terlebih dahulu memberi contoh kepadamu dekat dengan ALLAH. Keinginginan Ibu dan Ayah harus lebih dulu sesuai dengan keinginan ALLAH. Agar perjalananmu mendekati-Nya tak terlalu sulit dan sia-sia.
Kemudian, Ibu dan Ayanh masih ingat, ketika setapak demi setapak kau lankahkan kakimu. Ibu dan Ayah kadang tak mampu menghindarkan engkau dari kerikil tajam dan lumpur hitam perjalan ini. Ibu dan Ayah Cuma dapat mengenggam jemarimu dan merapatkan jiwa ini agar tidak terpisahkan.
Kini Ibu dan Ayah senantiasa berdo’a agar engkau dapat merasakan perjalanan rohaniah yang sebenarnya. Saat engkau mengeluh letih dalam sebuah perjalanan, Ibu dan Ayah telah berupaya sekuat tenaga menguatkanmu, karena hidup ini memang tidak boleh berhenti nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kata Ibu dan Ayah setiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.
Akhirnya Nak, kalau kelak ketika semua manusia dikumpulkan dihadapan-Nya dan kudapati jarak Ibu dan amat jauh dari-Nya (ALLAH), maka Ibu dan Ayah akan tulus ikhlas, karena itulah buah perilaku kami di dunia. Tetapi kalau boleh Ibu dan Ayah berharap, Ibu dan Ayah ingiiiiin sekali melihatmu dekat dengan ALLAH. Tentu Ibu dan Ayah bangga, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa Ibu dan Ayah kembalikan kepada pemilik-Nya.
Maafkan Ibu dan Ayahmu Nak
Dari Ibu dan Ayah yang senantiasa
merindukanmu.
Catatan;
(Saya tak kuasa menuliskan nya lagi)
_==========================================================_
Entah sudah beberapa kali saya mengikuti upcara prosesi pengukuhan Guru Besar di Universitas tempat saya bekerja, entah berapa kali pula saya menyaksikan para Guru Besar tak berdaya menahan tetesan air mata mereka di penghujung orasinya.
Pada umumnya di akhir pidato pengukuhan Guru Besar ada bagian untuk menyampaikan ucapan terimaksih kepada semua orang yang telah berjasa mengantarkan mereka memperoleh jabatan tertinggi dalam bidang akademik tersebut. Sekuat apapun hati, secerdas apappun intelegensi mereka, pada saat sampai pada ucapan terimakasih yang ditujukan kepada kedua orangtuanya, sejenak selalu berhenti berusaha bembendung genangan air mata yang mulai menetes di kedua bela pipinya. Betapa dahsyatnya kata “Ibu” dan “Ayah” . Tidak berlebihan kalau kata-kata tersebut mengandung makna yang sangat magis hingga membuat seseorang terenyuh bila mendengarnya.
Saya pernah mengikuti sebuah pelatihan penyeimbangan otak kiri dan otak kanan. Pelatihan tersebut dikemas begitu cantik sehingga peserta benar-benar masuk ke dalam suasana sugesti sang pelatih. Di penghujung pelatihan kami diminta membayangkan ke dua orang tua kami karena sang pelatih akan membacakan “surat wasiat” yang dititipkannya kepadanya dari orang tua kami. Dari mulai sampai akhir dibacakan surat wasiat tersebut saya tak mampu menahan deraian air mata yang meluap disela kelopak mata saya. Surat wasiat tersebut isinya kira-kira seperti berikut. Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda ketika membaca surat berikut ini. Tetapi coba Anda bayangkan, bagaimana kalau surat ini datang dari orang tua Anda sendiri.
Dear Anakku Tersayang
Anakku, surat ini Ibu dan Ayah tulis atas nama rindu yang besarnya hanya ALLAH yang tahu. Anakku sayang, menjadi ayah atau ibu itu sungguh indah dan mulia. Terlepas dari kecemasan Ayah dan Ibu ketika menanti kelahiranmu dulu yang masih dapat Ibu dan Ayah rasakan hingga kini. Bila Ibu dan Ayah kenang lagi kecemasan itu, terasa sangat indah karena didasari atas rasa cinta dan kasih sayang yang belum pernah Ibu dan Ayah rasakan sebelumnya.
Anakku, menjadi Ibu atau ayah itu sungguh mulia. Pernahkah engkau baca sejarah para nabi rosul Allah?. Di situ betapa banyak nasihat yang terbaik dicatat dari dialog antara orang tua dengan anak-anaknya. Meskipun demikian, ketahuilah nak, menjadi ibu atau ayah tidaklah mudah.
Ibu dan Ayah masih dapat mengenang masa-masa yang terlewat, antara desah ratap Ibu ketika berusaha melahirkanmu, dan kerinduan Ayah menanti kehadiranmu. Masih terbayang tubuh Ayah gemetar menyaksikan perjuangan Ibumu dalam proses melahirkanmu. Ibu dan kadang sebentar tertunduk layu dan sebentar tersenyum menatatap harapan atas keselamatanmu.
Kini, sepanjang masa keberadaanmu di sisi kami adalah salah satu masa terindah dan paling kami banggakan di depan siapapun, bahkan dihadapan ALLAH ketika ayah dan ibumu duduk tafakur dihadapan-Nya, hingga saat usia senja ini.
Anakku dambaan hati Ibu dan Ayah, masih terbayang dipelupuk mata Ibu dan Ayah saat engkau lahir dipangkuan ini. Kami cium dan kami timbang. Lalu engkau kami peluk erat-erat karena engkau kami anggap sebagai buah cinta kasih sayang antara Ibu dan Ayah. Engkau kami anggap sebagai bukti perekat jiwa Ibu dan Ayah yang tak lagi terpisahkan oleh apapun jua.
Tapi seiring perkembangan waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata “TIDAK”!. Ibu dan Ayah terperangah, kata-kata itu betul-betul telah menggugah kesadaran ayah dan ibumu. Ayah mulai bertanya dalam hati, ”siapakah engkau sesungguhnya?”. Engkau ternyata bukan milik kami, Ibu dan Ayah nak. Engkau lahir, ternyata bukanlah semata karena cinta kasih Ibu dan Ayah. Engkau adalah milik ALLAH. Tak ada hak bagi kami menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata dan seharusnya hanya untuk ALLAH.
Anakku, hati Ibu dan Ayah terasa pedih, jiwa ini terasa terhempas ketika menyadari siapa sebenarnya kami dan siapa sebenarnya engkau. Dalam untaian waktu yang panjang, tat kala malam menjadi sunyi sepi, muncul penyesalan dalama hati atas kesalahan Ayah dan Ibu mu. Mengapa Ayah dan Ibu tidak mampu mendidik dan membahagiakan kamu Nak. Penyesalan itu keluar bersama deraian air mata di hadapan ALLAH.
Tapi walaupun begitu, Ibu dan Ayang senantiasa bersyukur, karena penyesalan itu membuat Ibu dan Ayah hidup lebih cerah dan lega. Dan kesadaran itu muncul Nak, satu-satunya upaya Ibu dan Ayah adalah berusaha mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu dengan melakukan segala sesuatu karena ALLAH, bukan karena Ibu dan Ayah.
Tugas Ibu dan Ayah bukanlah agar engkau dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai ALLAH. Inilah upaya terberat Ibu dan Nak, karena artinya Ibu dan Ayah harus terlebih dahulu memberi contoh kepadamu dekat dengan ALLAH. Keinginginan Ibu dan Ayah harus lebih dulu sesuai dengan keinginan ALLAH. Agar perjalananmu mendekati-Nya tak terlalu sulit dan sia-sia.
Kemudian, Ibu dan Ayanh masih ingat, ketika setapak demi setapak kau lankahkan kakimu. Ibu dan Ayah kadang tak mampu menghindarkan engkau dari kerikil tajam dan lumpur hitam perjalan ini. Ibu dan Ayah Cuma dapat mengenggam jemarimu dan merapatkan jiwa ini agar tidak terpisahkan.
Kini Ibu dan Ayah senantiasa berdo’a agar engkau dapat merasakan perjalanan rohaniah yang sebenarnya. Saat engkau mengeluh letih dalam sebuah perjalanan, Ibu dan Ayah telah berupaya sekuat tenaga menguatkanmu, karena hidup ini memang tidak boleh berhenti nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kata Ibu dan Ayah setiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.
Akhirnya Nak, kalau kelak ketika semua manusia dikumpulkan dihadapan-Nya dan kudapati jarak Ibu dan amat jauh dari-Nya (ALLAH), maka Ibu dan Ayah akan tulus ikhlas, karena itulah buah perilaku kami di dunia. Tetapi kalau boleh Ibu dan Ayah berharap, Ibu dan Ayah ingiiiiin sekali melihatmu dekat dengan ALLAH. Tentu Ibu dan Ayah bangga, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa Ibu dan Ayah kembalikan kepada pemilik-Nya.
Maafkan Ibu dan Ayahmu Nak
Dari Ibu dan Ayah yang senantiasa
merindukanmu.
Catatan;
(Saya tak kuasa menuliskan nya lagi)
Senin, 08 Februari 2010
Rutinitas Pagi
Huhhh........ kenapa mesti pake acara bangun kesiangan. Jadi repot dewe kan? gelagepan ke kamar mandi ambil air wudhu trus sholat subuh yang harus malu dan balapan sama teritnya Mentari..... wussshhhh selesai sudah.. Nah ini bangunin Idang...yang belakangan agak ulet kalo dibngunin di pagi hari, padahal tidurnya semalam juga gak terlalu malam, belum jam 9 udah merem dia, malah adiknya Isyma yang tidur malam terus....lewat jam 11 malam... "Dannnnggg, ayo bangun Le, udah siang nihhh, yuk bangun ntar kesiangan gak kebagian make a line di sekolah lho." kataku sambil mbangunin Idang yang keliatan masih sangat ngantuk. Tapi gimana lagi daripada kesiangan malah semua berantakan. "Yaaaaaahhhh, Dadang....kolong" tiba-tiba adiknya wis bangun sambil senyum-senyum. "lo kan Mas Idang boboknya di kasur ukan dikolong, nahh tu kan liat.. ayo bantuin ayah bangunin Mas Idang!" kataku pelan sambil nggendong Isma. Duuuhhhh senengnya di pagi hari dengan rutinitas.....ini...
Senin, 14 Desember 2009
MUSIM 5 TAHUNAN
Jum’at 02-02-2007, saya nggak tau apakah ini suatu kebetulan, karena kalo dijumlah 2 + 2 + 2 + 7 = 13, dan bertepatan dengan hari Jum’at. Apakah ini yang dinamakan Friday 13th ? Atau ini sekedar tahayul berkenaan dengan hari Jumat dan tanggal 13? Saya ga’ ngeh dengan hal tersebut, tapi yang pasti tepat di hari Jumat tanggal 2 Februari 2007 itu telah terjadi bencana banjir yang sama sekali gak kebayang dan sama sekali gak kelintas dalam pikiran.
Tepatnya jam 2 dinihari aku terbangun dari tidur, dan masayaallah air sudah masuk ke dalam rumah. Tetapi aku hanya berpikir bahwa itu akan segera berakhir dan air segera surut. Karena berdasarkan informasi penduduk yang sudah lama tinggal di kawasan pemukiman tersebut, daerah tempat tinggalku itu gak pernah ngalami banjir, walo di tahun 2002 yang lalu banjir cuma mampir sebentar dan itupun cuma setinggi mata kaki dan berlangsung gak lebih dari 5 menit. Aku masih berpikir bahwa air akan segera surut, tetapi setelah setengah jam air bukannya surut malah bertambah ketinggiannya, dari yang sebelumnya hanya membasahi lantai sekarang sudah menggenang. Buru-buru aku naikin semua barang yang tergeletak dilantai dan semua barang yang kemungkinan basah oleh air yang makin lama makin naik. Awalnya barang-barang tak naikin diatas meja saja, tetapi ini gak bertahan lama karena sepertinya ketinggian air terus memburu. Sekitar jam 4 pagi, ketinggian air sudah mencapai 15 cm. Dibantu dengan istri kami segera berkemas, tapi cuman menaikkan barang lebih tinggi dari ketinggian meja saja. Kami masih berharap air akan segera surut, dan nanti siang segera berangkat kerja karena jam 10-an aku ada janji dengan customer. Harapan tinggallah harapan, air semakin tinggi dan aku mulai panik. Anak yang sudah bangun melihat air dalam rumah malah tertawa, “ ihh ada air , Idang mo berenang ya Yah?”. Yah dasar anak-anak mereka gak ngerti. Dan aku ngsih tau kalo sedang banjir, entah ngerti ato gak tapi yang pasti setelah tak kasih tau dia mulai tenang dan gak rewel. Akhirnya jam 7.30an air sudah setinggi paha orang dewasa. Jadi kugendong anakku tak ungsikan ke rumah adik yang kebetulan satu komplek dan kontrakannya kebetulan ada lantai dua di bagian belakang rumah yang biasanya untuk njemur. Sementara aku ngungsikan anak, istriku yang juga panik dirumah berusaha menitipkan barang-barang elektronik yang bisa diangkat disebelah rumah yang mempunyai rumah tingkat. Dan berikutnya aku buru-buru pulang kerumah, ya ampuuun, air semakin naik. Aku betul – betul panik. Adikku yang tinggal di bandung nelp dan nyaranin nyari palu dan tangga. Akhirnya aku temukan palu dan tangga, dan eternit rumah aku jebol aja dengan palu tersebut. Baju, buku, dan apa aja yang bisa diselamatkan, kami masukkan ke dalam sarung yang salah satu ujungnya sudah aku iket. Baju-baju tersebut saya masukin aja kedalam sarung tersebut, walo susah karena air sudah mulai melewati ketinggian “udel”. Mungkin karena panik tetep aja ada baju yang gak sempet aku selametin, yang akhirnya kerendem di air. Sepatu, buku, dan beberapa barang lain yang saat itu gak keliat karena ada diruang sebelah lolos dari pengamatan yang akhirnya rusak. Dan…….buku koleksiku juga hancur………..sedih sekali, tapi aku gak ambil pusing (saat itu). Sebetule kami belum selesai nylametin baju dan barang lainnya di “plafon/pyan”, karena ketinggian air sudah hampir setinggi dada, maka istriku tak suruh segera ngungsi ke rumah adik yang tadi aku ngungsikan anak kesana. Tinggal aku sendiri dirumah. Kursi, meja, tempat tidur, kasur, dan beberapa perabot lain termasuk barang-barang dapur sudah mulai ngambang kesana kemari. Aku tambah semakin panik. I don’t know, what should I do. Pelan-pelan aku selamatkan barang dengan cara yang sama seperti di atas. Rasane seperti mau nangis, tapi nangisin apa…… Yah aku tetep berusaha tegar. Rasa capek, dingin, lapar mulai nyerang. Tapi barangku semaksimal mungkin harus selamat.
Sampai akhirnya aku gak sadar kalo air sudah setinggi leher, aku pikir kalo aku tetep disini, aku gak bisa ngungsi dan akan membahayakan diri karena ketinggian air di jalan pasti sudah setinggi telinga bahkan lebih. Menyadari hal itu aku buru-buru ambil kunci rumah dan motor yang sudah tenggelam duluan tak kunci stang. Pintu tumah dan pagar aku kunci dengan susah payah karena yang pasti aku sudah gak bisa ngeliat lubang kunci dan gembok pagar. Akhirnya aku berhasil ngunci rumah dan pagar, dengan sedikit berenang dan sedikit jalan (jinjit) karena air bener-bener sudah setinggi mata. Aku berusaha kerumah adik yang kira-kira sejauh 200m dari rumah. Ya ampuunnnn, gimana carane berenang dan jalan di air stinggi itu, sementara rasa capek, lelah, ngantuk, lapar, dingin, panik, takut dan berjuta rasa lain menyerang. Ya Allah, berilah hamba kekuatan, “Saya harus selamat” itu saja yag terlintas dalam benak, karena bagaimanapun anak dan istri menunggu di rumah adik sana. Untung tiap Sabtu aku rutin berenang bersama keluarga, jadi berenang dengan jarak 200m bukan masalah bagi saya, cuman karena aku sambil bawa baju kering yang tak bungkus plastik untuk ganti nanti, jadi agak susah ditambah saat lewat perempatan jalan, ada arus yang lumayan kenceng membuat saya harus waspada, dan Alhamdulillah, aku berhasil nyampe rumah dengan selamat. Istri, adik dan anak menunggu dengan cemas karena air betul-betul sudah mencapai ketinggian di atas kepala.
Semua lega ketika aku nyampe rumah itu. Dan aku nyari handuk untuk ngeringin sekaligus ngangetin badan karena rasa dingin menyerang dan membuat aku seperti fly untuk beberapa saat.
Tapi kecemasan belum usai, istri adikku yang lagi hamil 9 bulan yang ngungsi ke rumah sodara yang gak kena banjir di daerah Pondok Kopi ditemeni sodaranya belum ada kabarnya sama sekali dihubungin gak bisa nyambung. Dan ini berlangsung sampe sore baru ada khabar kalo sudah nyampe pondok kopi, dan itupun nyaris juga terbawa arus, dia selamat karena lewat rel kereta api untuk bisa nyampe Pondok Kopi. (kesian sekali, mana lagi hamil 9 bulan lagi). Tapi yang penting semua sudah selamat.
Akhirnya hari itu kami tinggal di lantai atas walo belum ada tembok, tapi sudah ada atapnya, minimal kita gak kehujanan. Dan untuk nahan angin dan tampias hujan kami bentangin kain dan sprei di tiang atap rumah tersebut. Lumayanlah, kami bisa berlindung dari hujan, walo kadang air hujan masih mengenai kami kalo diserta angin. Dan untuk hari itu kami masih bisa bertahan karena beberapa bahan pangan yang ada dikulkas dan beras sempat kami selamatkan. Dan dengan kompor minyak kami masak sekedarnya untuk ngisi perut yang kosong belum terisi mulai pagi. Kondisi kami saat itu masih kaco, dengan rasa was-was takut air akan semakin naik lagi.
Beberapa kali kami naik ke atap rumah untuk melihat kondisi ketinggian air. Walo hujan masih ngguyur tapi kami harus tetep tahu kondisi terakhir. Bagaimana cara ngukur ketinggian air kami sudah gak ngerti lagi. Akhire aku selalu liat pagar depan rumah dan mobil yang di parkir. Lama kelamaan mobil cuman keliatan kapnya aja, dan menjelang maghrib kap mobil tinggal ujung atasnya aja, sedangkan pagar rumah sudah tidak keliatan lagi. Dan malam itu kami tidur di teras atas rumah dengan sedikit dag dig dug takut air naik terus. Mungkin karena capek sekitar jam 11 malam saya tertidur, dan kadang masih harus bangun karena angin mengbrak-abrik kain yang tak bentangin sehingga mau gak mau mengganggu tidur. But everything is OK, gigitan nyamuk sduah gak tak rasakan, saya khawatir kondisi anak dan istri aja, karena anak gak mau makan, cuman makan mie instant satu bungkus dan susu doang. Semoga saja mereka sehat-sehat saja. Dengan penerangan lampu lilin seadanya kami melewati malam dengan was-was dan gelisah.
Alhamdulillah akhirnya pagi datang juga. Saya berharap pagi datang dengan membawa secercah terang dengan surutnya air, tap apalah daya ternyata air masih tetap belum surut. Kami memulai hari dengan nongkrong di atas genteng, sekitar jam sembilan pagi air perlahan mulai surut sebatas dada orang dewasa, dan perahu karet bantuan dari PMI, TNI dan PKS mulai muncul nyelametin siapa aja yang kejebak air dan beraksud mau ngungsi. Jam 11 an air sudah setinggi perut dan aku berusaha nyari perahu karet agar lewat didepan rumah agar istri dan anak bisa numpang keseberang untuk ngungsi kemana aja yang penting selamat. Perahu karet akhire datang juga, dengan tangis anak saya tak naikin ke perahu karet disusul istri dan mertua adik saya untuk selanjutnya ngungsi ke Pondok Kopi yang aman gak kebanjiran. “Aman” itu yang ada dalam benak mengingat air pelan-pelan mulai surut. Sekitar jam 2 siang air sudah setinggi lutut artinya sebentar lagi air betul betul akan surut dan gambaran untuk membersihkan rumah sudah kebayang. Dan aku mencoba jalan nengok rumah yang sudah aku tinggalin semalaman, dan “Ya Allah , semua berantakan dan ancurrrrrrr?!! Basah terendam air banjir yang sudah gak berwarna coklat lagi bahkan cenderung berwarna hitam pekat. Aku pasrah saja apa yang akan terjadi. Jam 4 sore aku merasakan ada indikasi gak baik, air yang tadinya sudah selutut, sekarang kembali naik mejadi sepinggang, dan menjelang maghrib kembali sedada. Aduuuuh!!! Ada apa lagi ini, kenapa air naik lagi? Aku berusaha mencari informasi tentang ini, dan ada patroli yang mengatakan kalo tanggul di Bekasi Jebol dan air mengarah ke perumahan. Ampuuun, ya Allah berilah hamba kekuatan. Malam itu saya hanya sendirian di rumah melihat air yang terus naik hingga pagarpun kembali tenggelam bahkan lebih parah dari yang sebelumnya. Bagaimana lagi selain menunggu. Aku duduk di atas atap rumah dengan membawa “sentolop” berpayung itam. Wis pokoke indahlah dunia saat itu. Sambil bercanda dengantetangga yang sama-sama nangkring di atap rumah kami melewati malam. Hujan yang mengguyur lumayan lebat disertai angin memaksa kami turun dari singgasana atap rumah, dan aku tertidur sejenak. Sekitar jam 2 dinihari ada kecipak air lewat depan rumah dan ngasih info ke penduduk alo air tanggul jebol lebih parah. Dan rasa panic, was-was dan sejuta rasa lain menghantui, hingga aku gak tidur sampe menjelang subuh karena takut air semakin meninggi. Rasa capek, ngantuk dan gak tau namanya memaksa aku tertidur sape jam 6an, tapi lumayalah masih bisa tidur.
Hari ketiga (minggu) air pelan sekali surut, tapi gak papalah yang penting surut. Masak Mie Instant menjadi kegiatan pertamaku karena gimana lagi perut harus ke isi. Jam 9-an ada kabar gembira air pelan-pelan surut dan adikku yang di Bandung datang. Dukungan moral setidaknya sudah datang. Dan yang pasti dukungan financial sedikit membantu. Gimana nggak dalam kondisi seperti itu ATM dimana-mana gak berfungsi, kalopun berfungsi gak ada duitnya. Nah dengan datangnya adik dari Bandung ada rasa adhem dalam hati, karena Anak dan Istriku akan diajak ngungsi ke Bandung sampe air bener-bener surut dan lenyap dari komplek perumahan. Dan bener akhire anak istri ikut ngungsi ke Bandung selama beberapa hari sampe air bener-bener surut.
Dan sampe sore air surut tidaklah seberapa, masih sebatas dada orang dewasa. Sampe malam sepertinya keadaan tidaklah berubah, tetap. Lumayanlah dari pada air naik mending gini aja yang penting aman. Itu yang selalu ada dalam otakku. Biasa menghibur diri. Dan malam itu aku sendirian karena adik saya harus nemenin istrinya karena perutnya terasa mules dan air ketuban sudah pecah. Panik memang, but the show must go o. Adikku langsung lari ke Rumah Sakit nemenin istrinya dan aku sendirian aja nangkring di atap sampe pagi, tentunya sudah bisa tidur karena capek lelah luar biasa.
Hari keempat (Senin), air sudah mulai sedikit menyusut dari hari sebelumnyam nah disinilah masalah besar dimulai. AKu yang wis nahan beberapa hari harus UNLOADING, karena muatan dalam perut gak muat lagi. Gimana caranya, Toilet pastinya gak bisa dipake dan akhirnya……. (terpaksa sensor). Bayangin dhewe ajalah dalam kondisi seperti itu apa yang harus dikerjakan dan saya yakin semua orang melakukan hal yang sama. Hari ini aku sudah bisa keluar ke perkampungan sebelah yang gak kena Banjir, dan alhamdulillah saya makan besar hari itu, karena warteg sudah buka dan akhire aku makan nasi. Lega ???!!! ePelan tapi pasti air menyusut, menjelang sore hari air sudah sebatas pinggang, dan malam itu sambil bercanda dengan tetangga kanan kiri tentunya masih nangkring di atap. Dan sampe malam kami ngobrol sambil merhatiin kondisi air. Kelihatan sekali kalo air sudah bener-bener turun, karena ada beberapa rumah sudah mula membersihkan lantai, artinya air sudag sebatas lantai walau masih sebatas mata kaki. Aku gak peduli biar aja besok pagi mul;ai bersih-bersih. Dan malam itu saya segera tidur dengan harapan besok tenaga kembali segar dan siap tempur bersih-bersih rumah.
Hari Kelima (Selasa). Bangun pagi dengan semangat. Liat kondisi air ternya masih semata kaki, di jalanan masih sebetis. Tapi jam 8 an air bener-bener sudah turun dan sudah sebatas lantai dan dijalan sudah mulai sebatas ketinggian got normal seperti biasa. Aku langsung kontak ke Bandung minta bantuan ke Adik, karena kebetulan punya beberapa tukang yang lagi kerja di bandung, maka hari itu juga 6 orang langsung di abawa ke Jakarta. Sambil menunggu saya mula beres – beres rumah. Ngumpulin barang apa aja yang masih bisa terpakai dan masih bisa diselamtkan. Tapi sepertinya gak mungkin lagi. Segala macam buku yang tak kumpulin selama ini hancur, photo-photo, pakaian, lemari dan banyak lagi. Yang kelihatannya masih bisa dipakai tak sendiriin dan tak kumpulin sambil nggelontor Lumpur ddalam rumah. Ampun capek luar biasa. Tapi harus. Pelan-pelan aku tarik Lumpur keluar, tapi sepertine lu,pure terlalu tebel, baru sebentar aja wis bercucuran keringat. Dan akhire bantuan datang sekitar jam 12-an. Setelah istirahat sebentar jam satu mulai bersihkan sisi rumah dari Lumpur dan segala macam kotoran yang ada dan nempel dirumah. Kebetulan air PAM hidup jadi kebetulan sekali sekalian bersih. Yang bisa dicuci langsung dicuci, yang bisa diselamtkan dikumpulin dan yang kelihatan gak bisa langsung dibuang. Dan akhirnya jam 3 acara bersih-bersih dirumahka selesai, dan langsung dilanjutkan dirumah adiku di gang sebelah. Acara sama bersih-bersih dan jam 5 selesai semua. Lega sudah, rumah sudah mulai kelihatan seperti rumah, walo masih bau anyir, tapi no problemlah. Udara lembab masih sangat terasa sekali. Malam itu pasukan dari bandung langsung pulang, dan aku masih tetep sendiri, tapi gak popolah yang penting rumah sudah bersih tapi listriki belum nyala. Malam itu karena capek dan lapar aku cari tukang pijet dikampung sebelah. Dan saat itu listrik sudah nyala. Tapi rumahku belum tak nyalain, karena aku masih khawatir karena stop kontak dan skaklar semua terndam air , jadi aku masih takut kalo terjadi konslet. Dan malam itu aku masih tidur dengan tanpa nyala lampu listrik tapi lumayan sinar listrik dari jalan sudah ada jadi suasana sudah terang dan serasa lebih hidup dabn bergairah.
Hari Keenam (Rabu). Suasana bener-bener luar biasa. Semua bersih-bersih rumah. Tempat tidur, kursi, spring bed, lemari, meja kursi , kompor, dan masih banyak lagi benda yang biasanya ada dalam rumah keluar semua, turun ke jalan. Gak terkecuali satu rumahpun yang ketinggalan. Jadi bisa dibayangin suasana saat itu. Meriah koyo tujuh belasan. Jalan yang biasanya nampak lengang tiba-tiba saja menjadi seperti pasar tanah Abang. Segala macam baju, sprey dijemur diluar, tali dibentang antar ruamah depan dan depannya, semua melambai-lambai seperti bendera tujuh belasan. Kesedihan sepertinya sudah hilang. Semua sibuk. Jalan gak bisa dilewati kendaraan. Semua asyik dengan dunia masing-masing. Tapi sya gak bisa apa-apa, karena dengan nyalnya listrik artine banyak jet pump dan pompa air lainnya nyala. Karena PAM adalah satu-satunya air andalan dan banyak yang nyedot PAM dengan PAM maka air PAM dirumahkupun gak keluar aire, cumin ngosos. Jadine aku beres-beres aja yang bisa diberisin, sambil nyoba cari/beli kasur seadanya, untuk persiapan tidur tar malam karena kasur dirumah sudah gak mungkin terpakai lagi. Baru menjelang sore air bisa keluar dan akupun mulai betrsih bersih, sampe menjelang malam. Malam itu aku sudah tidur dirumahku sendiri dengan udara rumah yang masih bau den lembab. Dan di hari itu juga aku merasakan nikmatnya mandi yang seudah hamper 5 hari Cuma ada dalam bayangan aja.
Hari Ketujuh (Kemis). Rumah sudah seperti semula walo masih dengan suasana gak enak, Tapi kondisi sudah benar-benar bersih. Hati mulai tenang, perasaan was-was mulai hilang. Tapi itu cumin berlangsung sampe tengah hari. Karena jam 10an tiba-tiba langit yang cerah mendadak gelap dengan disertai petir. Dan jam 11an Hujan lebat turun. Perasaan khawatir dan was-was kembali menyerang. Dan benar, air perlahan-lahan naik ke teras rumah, merambat dari ubin satu ke berikutnya serta merta aku nyari kain pel dan kayu untuk memalangi ointu agar air gak masuk rumah lagi. Rupanya air yang sedemikian lebat ditambah kondisi got yang belum bersih membuat air kembali masuk rumah walo aku sudah berusa ngadang dengan kain dan kayu, tapi toh air tetep masuk rumah lagi. Pucat. Perasaanku mulai kacau lagi. Rasa cape yang belum lagi hilang haruskah air datang lagi.? Tapi syukurlah, hujan segera berhenti. Tapi air terlanjut masuk trumah. Tiba-tiba ada mobil lewat dengan kencang, jadi air yang sudah kutahan mati-matian agar gak masuk rumah, karena seperti didorong akhirnya meluaplah masuk rumah, dan Ya Allah, ampuni hamba ya Allah. Bagaimanapun juga air harus kutahan. Pelan-pelan air kembali surut dan segera kubersihkan rumah lagi sampe sore. Suasana masih mendung, Perasaan was-was masih terus bersemayam di hati. Hingga aku tertidur sampe pagi.
Hari Kedelapan (Jumat), Rumah sudah kembali normal, tapi Istri dan anakku masih belum pulang. Memang masih saya larang sampe kondisi bener-nener memungkinkan. Dan aku informasikan kalo mau pulang sudah siap, karena rumah sudah lumayan bersih, lagian aku wis gak mampu bersih-bersih dewean dan seminggu gak ketemu anak. Dan hari itu kami sudah berkumpul kembali dengan keluarga. Bersih-bersih terus dilakukan pelan-pelan, gak kejar targetlah, soale wis capek lahir bathin, semua yang ludes dan hancur sudah biarin aja. Dan kami memulai keidupan baru lagi dengan nafas baru tentunya. Future must be better.
Mungkin hanya ini dulu sepenggal kisah dalam acara musim 5 tahun yang diprakarsai oleh Pemerintah daerah Ibukota Jakarta dan dibantu oleh Pemda Bogor dengan kawawan puncaknya yang turut ambil peran besar dalam hajatan ini, karena nun jauh dipuncak sana, pohon dan hutan sudah berubah menjadi hutan villa orang berduit yang gak sadar dan peduli dengan lingkungan. Kalo ditanya itukan Hak Azasi. Nah HAM apalagi yang begii, apa HAM hanya milik orang kaya ? Gak taulah.
Semoga hajatan ini gak akan berulang lagi, kali ini aja kami bener2 kapok. Sampe sekarangpun kalo cuaca mendubng perasaan was-was sudah menjadi trauma . Apakah trauma ini akan sembuh, semoga yang berwenang membenahi masalah lingkungan tanggap dan segera membenahai lingkungan agar musim 5 tahunam gak akan terjadi lagi.
Tapi Mungkinkah ?
Tepatnya jam 2 dinihari aku terbangun dari tidur, dan masayaallah air sudah masuk ke dalam rumah. Tetapi aku hanya berpikir bahwa itu akan segera berakhir dan air segera surut. Karena berdasarkan informasi penduduk yang sudah lama tinggal di kawasan pemukiman tersebut, daerah tempat tinggalku itu gak pernah ngalami banjir, walo di tahun 2002 yang lalu banjir cuma mampir sebentar dan itupun cuma setinggi mata kaki dan berlangsung gak lebih dari 5 menit. Aku masih berpikir bahwa air akan segera surut, tetapi setelah setengah jam air bukannya surut malah bertambah ketinggiannya, dari yang sebelumnya hanya membasahi lantai sekarang sudah menggenang. Buru-buru aku naikin semua barang yang tergeletak dilantai dan semua barang yang kemungkinan basah oleh air yang makin lama makin naik. Awalnya barang-barang tak naikin diatas meja saja, tetapi ini gak bertahan lama karena sepertinya ketinggian air terus memburu. Sekitar jam 4 pagi, ketinggian air sudah mencapai 15 cm. Dibantu dengan istri kami segera berkemas, tapi cuman menaikkan barang lebih tinggi dari ketinggian meja saja. Kami masih berharap air akan segera surut, dan nanti siang segera berangkat kerja karena jam 10-an aku ada janji dengan customer. Harapan tinggallah harapan, air semakin tinggi dan aku mulai panik. Anak yang sudah bangun melihat air dalam rumah malah tertawa, “ ihh ada air , Idang mo berenang ya Yah?”. Yah dasar anak-anak mereka gak ngerti. Dan aku ngsih tau kalo sedang banjir, entah ngerti ato gak tapi yang pasti setelah tak kasih tau dia mulai tenang dan gak rewel. Akhirnya jam 7.30an air sudah setinggi paha orang dewasa. Jadi kugendong anakku tak ungsikan ke rumah adik yang kebetulan satu komplek dan kontrakannya kebetulan ada lantai dua di bagian belakang rumah yang biasanya untuk njemur. Sementara aku ngungsikan anak, istriku yang juga panik dirumah berusaha menitipkan barang-barang elektronik yang bisa diangkat disebelah rumah yang mempunyai rumah tingkat. Dan berikutnya aku buru-buru pulang kerumah, ya ampuuun, air semakin naik. Aku betul – betul panik. Adikku yang tinggal di bandung nelp dan nyaranin nyari palu dan tangga. Akhirnya aku temukan palu dan tangga, dan eternit rumah aku jebol aja dengan palu tersebut. Baju, buku, dan apa aja yang bisa diselamatkan, kami masukkan ke dalam sarung yang salah satu ujungnya sudah aku iket. Baju-baju tersebut saya masukin aja kedalam sarung tersebut, walo susah karena air sudah mulai melewati ketinggian “udel”. Mungkin karena panik tetep aja ada baju yang gak sempet aku selametin, yang akhirnya kerendem di air. Sepatu, buku, dan beberapa barang lain yang saat itu gak keliat karena ada diruang sebelah lolos dari pengamatan yang akhirnya rusak. Dan…….buku koleksiku juga hancur………..sedih sekali, tapi aku gak ambil pusing (saat itu). Sebetule kami belum selesai nylametin baju dan barang lainnya di “plafon/pyan”, karena ketinggian air sudah hampir setinggi dada, maka istriku tak suruh segera ngungsi ke rumah adik yang tadi aku ngungsikan anak kesana. Tinggal aku sendiri dirumah. Kursi, meja, tempat tidur, kasur, dan beberapa perabot lain termasuk barang-barang dapur sudah mulai ngambang kesana kemari. Aku tambah semakin panik. I don’t know, what should I do. Pelan-pelan aku selamatkan barang dengan cara yang sama seperti di atas. Rasane seperti mau nangis, tapi nangisin apa…… Yah aku tetep berusaha tegar. Rasa capek, dingin, lapar mulai nyerang. Tapi barangku semaksimal mungkin harus selamat.
Sampai akhirnya aku gak sadar kalo air sudah setinggi leher, aku pikir kalo aku tetep disini, aku gak bisa ngungsi dan akan membahayakan diri karena ketinggian air di jalan pasti sudah setinggi telinga bahkan lebih. Menyadari hal itu aku buru-buru ambil kunci rumah dan motor yang sudah tenggelam duluan tak kunci stang. Pintu tumah dan pagar aku kunci dengan susah payah karena yang pasti aku sudah gak bisa ngeliat lubang kunci dan gembok pagar. Akhirnya aku berhasil ngunci rumah dan pagar, dengan sedikit berenang dan sedikit jalan (jinjit) karena air bener-bener sudah setinggi mata. Aku berusaha kerumah adik yang kira-kira sejauh 200m dari rumah. Ya ampuunnnn, gimana carane berenang dan jalan di air stinggi itu, sementara rasa capek, lelah, ngantuk, lapar, dingin, panik, takut dan berjuta rasa lain menyerang. Ya Allah, berilah hamba kekuatan, “Saya harus selamat” itu saja yag terlintas dalam benak, karena bagaimanapun anak dan istri menunggu di rumah adik sana. Untung tiap Sabtu aku rutin berenang bersama keluarga, jadi berenang dengan jarak 200m bukan masalah bagi saya, cuman karena aku sambil bawa baju kering yang tak bungkus plastik untuk ganti nanti, jadi agak susah ditambah saat lewat perempatan jalan, ada arus yang lumayan kenceng membuat saya harus waspada, dan Alhamdulillah, aku berhasil nyampe rumah dengan selamat. Istri, adik dan anak menunggu dengan cemas karena air betul-betul sudah mencapai ketinggian di atas kepala.
Semua lega ketika aku nyampe rumah itu. Dan aku nyari handuk untuk ngeringin sekaligus ngangetin badan karena rasa dingin menyerang dan membuat aku seperti fly untuk beberapa saat.
Tapi kecemasan belum usai, istri adikku yang lagi hamil 9 bulan yang ngungsi ke rumah sodara yang gak kena banjir di daerah Pondok Kopi ditemeni sodaranya belum ada kabarnya sama sekali dihubungin gak bisa nyambung. Dan ini berlangsung sampe sore baru ada khabar kalo sudah nyampe pondok kopi, dan itupun nyaris juga terbawa arus, dia selamat karena lewat rel kereta api untuk bisa nyampe Pondok Kopi. (kesian sekali, mana lagi hamil 9 bulan lagi). Tapi yang penting semua sudah selamat.
Akhirnya hari itu kami tinggal di lantai atas walo belum ada tembok, tapi sudah ada atapnya, minimal kita gak kehujanan. Dan untuk nahan angin dan tampias hujan kami bentangin kain dan sprei di tiang atap rumah tersebut. Lumayanlah, kami bisa berlindung dari hujan, walo kadang air hujan masih mengenai kami kalo diserta angin. Dan untuk hari itu kami masih bisa bertahan karena beberapa bahan pangan yang ada dikulkas dan beras sempat kami selamatkan. Dan dengan kompor minyak kami masak sekedarnya untuk ngisi perut yang kosong belum terisi mulai pagi. Kondisi kami saat itu masih kaco, dengan rasa was-was takut air akan semakin naik lagi.
Beberapa kali kami naik ke atap rumah untuk melihat kondisi ketinggian air. Walo hujan masih ngguyur tapi kami harus tetep tahu kondisi terakhir. Bagaimana cara ngukur ketinggian air kami sudah gak ngerti lagi. Akhire aku selalu liat pagar depan rumah dan mobil yang di parkir. Lama kelamaan mobil cuman keliatan kapnya aja, dan menjelang maghrib kap mobil tinggal ujung atasnya aja, sedangkan pagar rumah sudah tidak keliatan lagi. Dan malam itu kami tidur di teras atas rumah dengan sedikit dag dig dug takut air naik terus. Mungkin karena capek sekitar jam 11 malam saya tertidur, dan kadang masih harus bangun karena angin mengbrak-abrik kain yang tak bentangin sehingga mau gak mau mengganggu tidur. But everything is OK, gigitan nyamuk sduah gak tak rasakan, saya khawatir kondisi anak dan istri aja, karena anak gak mau makan, cuman makan mie instant satu bungkus dan susu doang. Semoga saja mereka sehat-sehat saja. Dengan penerangan lampu lilin seadanya kami melewati malam dengan was-was dan gelisah.
Alhamdulillah akhirnya pagi datang juga. Saya berharap pagi datang dengan membawa secercah terang dengan surutnya air, tap apalah daya ternyata air masih tetap belum surut. Kami memulai hari dengan nongkrong di atas genteng, sekitar jam sembilan pagi air perlahan mulai surut sebatas dada orang dewasa, dan perahu karet bantuan dari PMI, TNI dan PKS mulai muncul nyelametin siapa aja yang kejebak air dan beraksud mau ngungsi. Jam 11 an air sudah setinggi perut dan aku berusaha nyari perahu karet agar lewat didepan rumah agar istri dan anak bisa numpang keseberang untuk ngungsi kemana aja yang penting selamat. Perahu karet akhire datang juga, dengan tangis anak saya tak naikin ke perahu karet disusul istri dan mertua adik saya untuk selanjutnya ngungsi ke Pondok Kopi yang aman gak kebanjiran. “Aman” itu yang ada dalam benak mengingat air pelan-pelan mulai surut. Sekitar jam 2 siang air sudah setinggi lutut artinya sebentar lagi air betul betul akan surut dan gambaran untuk membersihkan rumah sudah kebayang. Dan aku mencoba jalan nengok rumah yang sudah aku tinggalin semalaman, dan “Ya Allah , semua berantakan dan ancurrrrrrr?!! Basah terendam air banjir yang sudah gak berwarna coklat lagi bahkan cenderung berwarna hitam pekat. Aku pasrah saja apa yang akan terjadi. Jam 4 sore aku merasakan ada indikasi gak baik, air yang tadinya sudah selutut, sekarang kembali naik mejadi sepinggang, dan menjelang maghrib kembali sedada. Aduuuuh!!! Ada apa lagi ini, kenapa air naik lagi? Aku berusaha mencari informasi tentang ini, dan ada patroli yang mengatakan kalo tanggul di Bekasi Jebol dan air mengarah ke perumahan. Ampuuun, ya Allah berilah hamba kekuatan. Malam itu saya hanya sendirian di rumah melihat air yang terus naik hingga pagarpun kembali tenggelam bahkan lebih parah dari yang sebelumnya. Bagaimana lagi selain menunggu. Aku duduk di atas atap rumah dengan membawa “sentolop” berpayung itam. Wis pokoke indahlah dunia saat itu. Sambil bercanda dengantetangga yang sama-sama nangkring di atap rumah kami melewati malam. Hujan yang mengguyur lumayan lebat disertai angin memaksa kami turun dari singgasana atap rumah, dan aku tertidur sejenak. Sekitar jam 2 dinihari ada kecipak air lewat depan rumah dan ngasih info ke penduduk alo air tanggul jebol lebih parah. Dan rasa panic, was-was dan sejuta rasa lain menghantui, hingga aku gak tidur sampe menjelang subuh karena takut air semakin meninggi. Rasa capek, ngantuk dan gak tau namanya memaksa aku tertidur sape jam 6an, tapi lumayalah masih bisa tidur.
Hari ketiga (minggu) air pelan sekali surut, tapi gak papalah yang penting surut. Masak Mie Instant menjadi kegiatan pertamaku karena gimana lagi perut harus ke isi. Jam 9-an ada kabar gembira air pelan-pelan surut dan adikku yang di Bandung datang. Dukungan moral setidaknya sudah datang. Dan yang pasti dukungan financial sedikit membantu. Gimana nggak dalam kondisi seperti itu ATM dimana-mana gak berfungsi, kalopun berfungsi gak ada duitnya. Nah dengan datangnya adik dari Bandung ada rasa adhem dalam hati, karena Anak dan Istriku akan diajak ngungsi ke Bandung sampe air bener-bener surut dan lenyap dari komplek perumahan. Dan bener akhire anak istri ikut ngungsi ke Bandung selama beberapa hari sampe air bener-bener surut.
Dan sampe sore air surut tidaklah seberapa, masih sebatas dada orang dewasa. Sampe malam sepertinya keadaan tidaklah berubah, tetap. Lumayanlah dari pada air naik mending gini aja yang penting aman. Itu yang selalu ada dalam otakku. Biasa menghibur diri. Dan malam itu aku sendirian karena adik saya harus nemenin istrinya karena perutnya terasa mules dan air ketuban sudah pecah. Panik memang, but the show must go o. Adikku langsung lari ke Rumah Sakit nemenin istrinya dan aku sendirian aja nangkring di atap sampe pagi, tentunya sudah bisa tidur karena capek lelah luar biasa.
Hari keempat (Senin), air sudah mulai sedikit menyusut dari hari sebelumnyam nah disinilah masalah besar dimulai. AKu yang wis nahan beberapa hari harus UNLOADING, karena muatan dalam perut gak muat lagi. Gimana caranya, Toilet pastinya gak bisa dipake dan akhirnya……. (terpaksa sensor). Bayangin dhewe ajalah dalam kondisi seperti itu apa yang harus dikerjakan dan saya yakin semua orang melakukan hal yang sama. Hari ini aku sudah bisa keluar ke perkampungan sebelah yang gak kena Banjir, dan alhamdulillah saya makan besar hari itu, karena warteg sudah buka dan akhire aku makan nasi. Lega ???!!! ePelan tapi pasti air menyusut, menjelang sore hari air sudah sebatas pinggang, dan malam itu sambil bercanda dengan tetangga kanan kiri tentunya masih nangkring di atap. Dan sampe malam kami ngobrol sambil merhatiin kondisi air. Kelihatan sekali kalo air sudah bener-bener turun, karena ada beberapa rumah sudah mula membersihkan lantai, artinya air sudag sebatas lantai walau masih sebatas mata kaki. Aku gak peduli biar aja besok pagi mul;ai bersih-bersih. Dan malam itu saya segera tidur dengan harapan besok tenaga kembali segar dan siap tempur bersih-bersih rumah.
Hari Kelima (Selasa). Bangun pagi dengan semangat. Liat kondisi air ternya masih semata kaki, di jalanan masih sebetis. Tapi jam 8 an air bener-bener sudah turun dan sudah sebatas lantai dan dijalan sudah mulai sebatas ketinggian got normal seperti biasa. Aku langsung kontak ke Bandung minta bantuan ke Adik, karena kebetulan punya beberapa tukang yang lagi kerja di bandung, maka hari itu juga 6 orang langsung di abawa ke Jakarta. Sambil menunggu saya mula beres – beres rumah. Ngumpulin barang apa aja yang masih bisa terpakai dan masih bisa diselamtkan. Tapi sepertinya gak mungkin lagi. Segala macam buku yang tak kumpulin selama ini hancur, photo-photo, pakaian, lemari dan banyak lagi. Yang kelihatannya masih bisa dipakai tak sendiriin dan tak kumpulin sambil nggelontor Lumpur ddalam rumah. Ampun capek luar biasa. Tapi harus. Pelan-pelan aku tarik Lumpur keluar, tapi sepertine lu,pure terlalu tebel, baru sebentar aja wis bercucuran keringat. Dan akhire bantuan datang sekitar jam 12-an. Setelah istirahat sebentar jam satu mulai bersihkan sisi rumah dari Lumpur dan segala macam kotoran yang ada dan nempel dirumah. Kebetulan air PAM hidup jadi kebetulan sekali sekalian bersih. Yang bisa dicuci langsung dicuci, yang bisa diselamtkan dikumpulin dan yang kelihatan gak bisa langsung dibuang. Dan akhirnya jam 3 acara bersih-bersih dirumahka selesai, dan langsung dilanjutkan dirumah adiku di gang sebelah. Acara sama bersih-bersih dan jam 5 selesai semua. Lega sudah, rumah sudah mulai kelihatan seperti rumah, walo masih bau anyir, tapi no problemlah. Udara lembab masih sangat terasa sekali. Malam itu pasukan dari bandung langsung pulang, dan aku masih tetep sendiri, tapi gak popolah yang penting rumah sudah bersih tapi listriki belum nyala. Malam itu karena capek dan lapar aku cari tukang pijet dikampung sebelah. Dan saat itu listrik sudah nyala. Tapi rumahku belum tak nyalain, karena aku masih khawatir karena stop kontak dan skaklar semua terndam air , jadi aku masih takut kalo terjadi konslet. Dan malam itu aku masih tidur dengan tanpa nyala lampu listrik tapi lumayan sinar listrik dari jalan sudah ada jadi suasana sudah terang dan serasa lebih hidup dabn bergairah.
Hari Keenam (Rabu). Suasana bener-bener luar biasa. Semua bersih-bersih rumah. Tempat tidur, kursi, spring bed, lemari, meja kursi , kompor, dan masih banyak lagi benda yang biasanya ada dalam rumah keluar semua, turun ke jalan. Gak terkecuali satu rumahpun yang ketinggalan. Jadi bisa dibayangin suasana saat itu. Meriah koyo tujuh belasan. Jalan yang biasanya nampak lengang tiba-tiba saja menjadi seperti pasar tanah Abang. Segala macam baju, sprey dijemur diluar, tali dibentang antar ruamah depan dan depannya, semua melambai-lambai seperti bendera tujuh belasan. Kesedihan sepertinya sudah hilang. Semua sibuk. Jalan gak bisa dilewati kendaraan. Semua asyik dengan dunia masing-masing. Tapi sya gak bisa apa-apa, karena dengan nyalnya listrik artine banyak jet pump dan pompa air lainnya nyala. Karena PAM adalah satu-satunya air andalan dan banyak yang nyedot PAM dengan PAM maka air PAM dirumahkupun gak keluar aire, cumin ngosos. Jadine aku beres-beres aja yang bisa diberisin, sambil nyoba cari/beli kasur seadanya, untuk persiapan tidur tar malam karena kasur dirumah sudah gak mungkin terpakai lagi. Baru menjelang sore air bisa keluar dan akupun mulai betrsih bersih, sampe menjelang malam. Malam itu aku sudah tidur dirumahku sendiri dengan udara rumah yang masih bau den lembab. Dan di hari itu juga aku merasakan nikmatnya mandi yang seudah hamper 5 hari Cuma ada dalam bayangan aja.
Hari Ketujuh (Kemis). Rumah sudah seperti semula walo masih dengan suasana gak enak, Tapi kondisi sudah benar-benar bersih. Hati mulai tenang, perasaan was-was mulai hilang. Tapi itu cumin berlangsung sampe tengah hari. Karena jam 10an tiba-tiba langit yang cerah mendadak gelap dengan disertai petir. Dan jam 11an Hujan lebat turun. Perasaan khawatir dan was-was kembali menyerang. Dan benar, air perlahan-lahan naik ke teras rumah, merambat dari ubin satu ke berikutnya serta merta aku nyari kain pel dan kayu untuk memalangi ointu agar air gak masuk rumah lagi. Rupanya air yang sedemikian lebat ditambah kondisi got yang belum bersih membuat air kembali masuk rumah walo aku sudah berusa ngadang dengan kain dan kayu, tapi toh air tetep masuk rumah lagi. Pucat. Perasaanku mulai kacau lagi. Rasa cape yang belum lagi hilang haruskah air datang lagi.? Tapi syukurlah, hujan segera berhenti. Tapi air terlanjut masuk trumah. Tiba-tiba ada mobil lewat dengan kencang, jadi air yang sudah kutahan mati-matian agar gak masuk rumah, karena seperti didorong akhirnya meluaplah masuk rumah, dan Ya Allah, ampuni hamba ya Allah. Bagaimanapun juga air harus kutahan. Pelan-pelan air kembali surut dan segera kubersihkan rumah lagi sampe sore. Suasana masih mendung, Perasaan was-was masih terus bersemayam di hati. Hingga aku tertidur sampe pagi.
Hari Kedelapan (Jumat), Rumah sudah kembali normal, tapi Istri dan anakku masih belum pulang. Memang masih saya larang sampe kondisi bener-nener memungkinkan. Dan aku informasikan kalo mau pulang sudah siap, karena rumah sudah lumayan bersih, lagian aku wis gak mampu bersih-bersih dewean dan seminggu gak ketemu anak. Dan hari itu kami sudah berkumpul kembali dengan keluarga. Bersih-bersih terus dilakukan pelan-pelan, gak kejar targetlah, soale wis capek lahir bathin, semua yang ludes dan hancur sudah biarin aja. Dan kami memulai keidupan baru lagi dengan nafas baru tentunya. Future must be better.
Mungkin hanya ini dulu sepenggal kisah dalam acara musim 5 tahun yang diprakarsai oleh Pemerintah daerah Ibukota Jakarta dan dibantu oleh Pemda Bogor dengan kawawan puncaknya yang turut ambil peran besar dalam hajatan ini, karena nun jauh dipuncak sana, pohon dan hutan sudah berubah menjadi hutan villa orang berduit yang gak sadar dan peduli dengan lingkungan. Kalo ditanya itukan Hak Azasi. Nah HAM apalagi yang begii, apa HAM hanya milik orang kaya ? Gak taulah.
Semoga hajatan ini gak akan berulang lagi, kali ini aja kami bener2 kapok. Sampe sekarangpun kalo cuaca mendubng perasaan was-was sudah menjadi trauma . Apakah trauma ini akan sembuh, semoga yang berwenang membenahi masalah lingkungan tanggap dan segera membenahai lingkungan agar musim 5 tahunam gak akan terjadi lagi.
Tapi Mungkinkah ?
ombak
dicurigai memang sama sekali tidak mengenakkan, apalagi oleh orang yang sangat dekat dengan kita, sakit hati itu pasti, tapi berusaha tegar ditengah terjangan ombak. apapun dihitung padahal saya gak ngitung, gulana tapi jangan sampai ke durjana.
Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari segala godaan setan yang terkutuk, Ya Allah lindungilah kami dari segala macam mara bahaya dan bencana, lindungilah kami yang selalu bermaksiat kepadamu ini dari segala macam fitnah da'jal, peliharalah lidah ini untuk selalu menyebut dan mengagungkan namaMu, jagalah hati yang kotor ini dari segala macam penyakit iri dengki syirik apalagi kufur terhadap nikmatmu.
Ya Allah yang maha Pengasih dan Penyayang, peliharalah kami dalam ikatan sakinah mawaddah dan warohmah, peliharalah kami dari segala macam terjangan badai dan berilah kami kekuatan untuk menghadapinya.
Ya Allah, kami memang orang yang tidak pandai bersyukur, untuk itu Ya ALlah selalu bimbing kami untuk selalu berada di jalanmu, untuk selalu berjuang menegakkan agamaMu, untuk selalu memuliakan utasan RasulMu....
Ya Allah, jangan timpakan kesedihan kepada kami, jangan marahi kami ya Allah....
kami tahu, Ya Allah betapa hinanya kami dihadapanmu, kami memang tidak pantas untuk berada berada di SurgaMu, tapi kami juga tidak akan kuat dan tahan di nerakaMU ya ALlah, untuk itu lindungilah kami beserta keluarga kami dari pedihnya siksa api neraka
Ya ALlah perkenankan kami nanti mati hanya dengan Khusnul Khatimah......
Ya Allah kami takut akan siksa dan amarahMU, bangunkan jiwa kami agar kami selalu bersimpuh bersujud di hadapanMu, hingga mengering air mata ini..........
Ya ALlah bimbinglah kami merawat mendidik anak-anak yang telah Kau amanahkan kepada kami sesuai dengan ajaran dan tuntunanMu Ya Allah, hingga mereka tidak pernah lupa sedikitpun terhadap kebesarMU, Mereka yang akan menjaga Aqidah dari Mu ya Allah.....
Amin.......
Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari segala godaan setan yang terkutuk, Ya Allah lindungilah kami dari segala macam mara bahaya dan bencana, lindungilah kami yang selalu bermaksiat kepadamu ini dari segala macam fitnah da'jal, peliharalah lidah ini untuk selalu menyebut dan mengagungkan namaMu, jagalah hati yang kotor ini dari segala macam penyakit iri dengki syirik apalagi kufur terhadap nikmatmu.
Ya Allah yang maha Pengasih dan Penyayang, peliharalah kami dalam ikatan sakinah mawaddah dan warohmah, peliharalah kami dari segala macam terjangan badai dan berilah kami kekuatan untuk menghadapinya.
Ya Allah, kami memang orang yang tidak pandai bersyukur, untuk itu Ya ALlah selalu bimbing kami untuk selalu berada di jalanmu, untuk selalu berjuang menegakkan agamaMu, untuk selalu memuliakan utasan RasulMu....
Ya Allah, jangan timpakan kesedihan kepada kami, jangan marahi kami ya Allah....
kami tahu, Ya Allah betapa hinanya kami dihadapanmu, kami memang tidak pantas untuk berada berada di SurgaMu, tapi kami juga tidak akan kuat dan tahan di nerakaMU ya ALlah, untuk itu lindungilah kami beserta keluarga kami dari pedihnya siksa api neraka
Ya ALlah perkenankan kami nanti mati hanya dengan Khusnul Khatimah......
Ya Allah kami takut akan siksa dan amarahMU, bangunkan jiwa kami agar kami selalu bersimpuh bersujud di hadapanMu, hingga mengering air mata ini..........
Ya ALlah bimbinglah kami merawat mendidik anak-anak yang telah Kau amanahkan kepada kami sesuai dengan ajaran dan tuntunanMu Ya Allah, hingga mereka tidak pernah lupa sedikitpun terhadap kebesarMU, Mereka yang akan menjaga Aqidah dari Mu ya Allah.....
Amin.......
Langganan:
Postingan (Atom)